Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • OPINI
  • Konstruksi Realitas Debat Calon Presiden  dan Wakil Presiden Tahun 2024
  • OPINI

Konstruksi Realitas Debat Calon Presiden  dan Wakil Presiden Tahun 2024

SI 24 Januari 2024

Dean Al-Gamereau

Apa saja yang kita lihat dan kita  dengar mengendap dalam  pikiran kita. Informasi yang kita terima pun tersimpan dalam memori. Pengalaman  yang kita lihat atau kita dengar pun sama tersimpan dalam memori kita. Ketika kita mengungkapkan lagi apa yang pernah kita lihat atau yang kita dengar itu, baik dengan lisan  maupun dengan tulisan, hakikatnya kita sedang menciptakan realitas baru, berdasarkan  realitas pertama yang kita alami – dan itu dipengaruhi oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor eksternal.  

Menurut  Peter Ludwig  Berger dan Thomas Luckmann, manusia menciptakan realitas sosial dari berbagai informasi yang didapat terus-menerus  kemudian diproses berdasarkan faktor-faktor internal (subjektif) dan faktor-faktor eksternal (objektif).

Ada tiga teori yang berhubungan dengan konstruksi realitas, yakni teori fakta sosial, teori definisi sosial, dan teori konstruksi sosial. Teori fakta sosial  menyebutkan bahwa  tindakan manusia ditentukan oleh lingkungannya.  Dalam teori ini, manusia pasif, dan lingkungannyalah yang aktif sehingga mampu memengaruhi manusia itu sendiri.  Teori fakta sosial menafikan individu.

Teori definisi sosial malah sebaliknya dari teori fakta sosial. Menurut teori ini, justru manusialah yang menciptakan atau membentuk prilaku sosialnya.  Teori definisi sosial justru menonjolkan indvidu. 

Teori ketiga adalah teori konstruksi sosial. Teori ini merupakan gabungan teori fakta sosial dan teori defenisi sosial, dengan tokohnya Peter Ludwig  Berger dan Thomas Luckmann. Teori yang diciptakan dan dikembangkan oleh kedua tokoh  di atas  menyebutkan bahwa realitas mempunyai dimensi subjektif dan dimensi objektif. Dalam dimensi  subjektif, manusia menciptakan realitas yang objektif, tetapi  penciptaannya  tidak lepas pula dari proses eksternalisasi.

Konstruksi Media Massa

Kalau teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann  itu dihubungkan  dengan media massa, maka akan muncul pertanyaan, apakah  karya jurnalistik itu fakta pertama atau konstruksi realitas wartawan atau media tempat wartawan itu bekerja? Data atau fakta yang dikumpulkan wartawan adalah hal yang pertama.  Kalau kemudian berita yang terbit di media massa itu terasa ada sesuatu yang ditonjolkan, maka inilah hasil internalisasi berupa gatekeeping.

Dengan demikian, berita yang disajikan itu adalah fakta kedua. Maka, di sini, benarlah teori Peter Ludwig Berger dan Thomas Luckmann tentang konstruksi realitas yang dibangun karena ideologi, politik, ekonomi, pasar, dan lain-lain.

Melalui jajaran redaksi, berita yang ditulis wartawan berdasarkan fakta dan data di lapangan bisa diolah lagi  lalu disesuaikan dengan kepentingan media massa itu sendiri. Itulah sebabnya, sering dikatakan, bahwa apa yang tercetak atau tersiar di media massa belum tentu seperti yang terjadi di lapangan. Dengan mengacu  pada peta internalisasi gatekeeping, bisa dipahami bahwa realitas di lapangan, sampai terakhir jadi makna yang tercetak atau tersiar di media, maka terdapat beberapa proses dan faktor pengaruh, seperti pengaruh eksternal dan pengaruh internal. 

Pengaruh  eksternal bisa berupa politik, pasar, sponsor atau iklan. Pengaruh internal bisa berupa ideologi seperti agama yang dianut oleh pemilik atau kebijakan internal media massa yang bersangkutan. Faktor internal dan faktor eksternal ini sangat memengaruhi karja jurnalistik.  Hamad (2003 : xvii) memetakan  prosesi konstruksi realitas (dan termasuk juga konstruksi media massa)  ke dalam sembilan  peta, (a) Realitas pertama keadaan, benda, pikiran, orang, dan peristiwa, (b) Proses konstruksi realitas oleh pelaku, (c) Sistem komunikasi yang berlaku, (d) Dinamika internal dan eksternal perilaku konstruksi, (e) Faktor internal : ideologis, idealism (f) Faktor eksternal: Pasar, sponsor, Strategi mengonstruksi realitas, (g) Strategi signing, strategi framing, strategi priming, (h) Discourse atau realitas  yang dikonstruksikan (teks, talk, dan artefak, dan (i) makna, citra, dan kepentingan di balik wacana.

Debat Capres dan Cawapres

Rekomendasi saya, coba tonton lagi, dan simak secara utuh debat calon presiden Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo pada 07 Januari 2024 lalu! Ini (bisa kita sebut) fakta pertama. Lalu, cobalah simak komentar pemerhati, peneliti, pengusung, pendukung para calon presiden, aktivis media sosial, media massa, dan lain-lain!

Apakah mereka punya penilaian yang sama seragam? Faktanya, berbeda! Masalahnya, seperti kata teori-teori di atas, seluruh debat calon presiden itu mengendap dalam memori kita, lalu ketika kita akan berkomentar, akan mengekspresikan, atau menceritakan lagi debat – disadari atau tak disadari – akan dipengaruhi faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal dalam diri kita, seperti rumusan Hamad di atas.

Apalagi pengamat atau pemerhati atau siapa pun yang sudah mengikatkan diri dengan calon presiden tertentu, maka akan lahirlah pujaan dan pujian, atau pembelaan untuk “sang pujaan”. Tak ada yang salah, karena  memang itulah konstruksi realitas sebagai “watak” manusia. Apalagi debat calon presiden dan wakil presiden yang penuh dengan kepentingan.  Perkara yang salah adalah menghina atau merendahkan martabat calon presiden tertentu. Ini bisa diperkarakan.

Debat keempat, debat calon wakil presiden, Ahad 21 Januari 2024, atau debat kelima berikutnya (terakhir), Ahad 4 Februari 2024. Tontonlah dengan penuh perhatian! Ini adalah fakta pertama, apa pun televisinya, atau medianya. Cobalah kemudian perhatikan komentar-komentar atau penilaian-penilaian pascadebat : dijamin berbeda! Sekali lagi, inilah memang bukti konstruksi realitas. Catatan saya, Sebetulnya, fakta pertama itu adalah debat yang kita tonton langsung. Debat yang kita tonton melalui televisi, dan televisinya berbeda-beda, mesti saja, sekecil apa pun, diduga keras memungkinkan  adanya “framing”  (pembingkaian/penonjolan dengan bidikan kamera) atau perilaku lain juru kamera masing-masing untuk calon presiden tertentu. Saya “menarik” debat calon presiden melalui televisi sebagai fakta pertama semata-mata karena percaya penyiaran debat itu telah diusahakan sama persis (ada SOP-nya) dengan debatnya itu sendiri di ruang debat. ***

SI
Author: SI

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Post Views: 314

Continue Reading

Previous: Senja Hari Anggota KPU Lebak
Next: Nalar dan Moral Politik

ARTIKEL LAIN

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
Belajarlah pada Rayap
  • OPINI

Belajarlah pada Rayap

11 Juni 2025
Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?
  • OPINI

Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?

3 Desember 2024

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE