Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • OPINI
  • Senja Hari Anggota KPU Lebak
  • OPINI

Senja Hari Anggota KPU Lebak

SI 11 Desember 2023

Dean Al-Gamereau

Tirai hujan sore di Jalan Abdi Negara 08 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.  Saya masih berhadapan dengan komputer di lantai atas. Sesekali, saya  turun ke lantai bawah, untuk sekadar cari angin,  atau sekedar melepas lelah kedua bola mata yang terus-menerus berdialog dengan huruf dan angka.

Di seberang jalan, ada patung Eduard Douwes Dekker, atau lebih dikenal dengan nama Multatuli.  Tentu saja, asisten residen Bupati Lebak Raden Adipati Karta Nata Negara  itu diam saja, tak mau bergerak, meski hujan deras mulai deras.

“Aku ingin dibaca!” teriak Multatuli  dalam buku yang ditulisnya,  di sebuah losmen di Jerman, setelah “minggat” dari Kabupaten Lebak.  Sama, tulisan saya dari lantai  atas   gedung KPU Kabupaten Lebak ini  pun ingin dibaca, terus dibaca, bahkan ketika saya sudah berbaring  di bawah lapisan tanah merah. KPU Kabupaten Lebak hanya ingin dibaca, dan sama sekali tak mau  dipahat dengan tinta mas, atau apalagi  di-patung-kan seperti Multatuli. 

Hujan masih turun. Segelas kopi panas disodorkan si Mamang pedagang asong yang biasa keluar masuk  kantor KPU Lebak.  Si Mamang tersenyum,  padahal kemudian hanya menerima imbalan Rp4.000,00 saja.  Saya cemburu dengan senyumnya, dengan wajahnya yang ceria.

Tak punya beban beratkah  dalam hidupnya? Dari pagi sampai sore ada di rumah, untuk kemudian dari sore sampai dini hari  berjualan kopi, hanya di seputar dan di sekitar alun-alun Rangkasbitung saja, lalu pulang, dan  disambut senyum sang bidadari di muka pintu rumahnya.

Mamang, saya cemburu!  Saya dan kawan-kawan selalu bergulat dan bergelut dengan profesional dan tak profesional,  netral dan tak netral,  bahkan terhormat dan  tak terhormat seperti dalam sebuah episode   “Malapateka Pelayanaan KPU Lebak” tempo hari.

Si Mamang pedagang kopi dipastikan tak akan memahami semua itu, dan tak perlu  memahaminya.  Bagi si Mamang, menyodorkan segelas kopi kepada anggota yang sedang “pusing tujuh keliling”, sambil tersenyum dan membungkukkan badan, cukuplah   sebagai “puncak pengabdian” seorang  pedagang kopi malam hari di KPU Kabupaten  Lebak.

Mamang!  Untuk sementara,  kita bertukar pekerjaan  saja, ya? Saya berjualan kopi, yang tak ada hubungannya dengan profesional dan tak profesional, netral dan tak netral, bahkan benar atau salah, plus fitnah dan caci maki secara luas.  Segelas kopi jauh  dari kemarahan, tetapi dekat dengan keramahan. “Seduh kopi, sedih berlalu,” kata orang.

Mamang tak pernah dimaki-maki dan diceramahi oleh pelanggan Mamang, bukan? Mamang tak pernah pula   diperintah, dikritik habis-habisan, difitnah,  atau diberi khutbah oleh langganan Mamang, bukan?

Saya merindukan senyum Mamang dengan segelas kopi panas seharga Rp4.000.00  yang benar-benar  bersih tanpa beban itu. Lalu, senja hari KPU Lebak saya, mestikah   ternoda dan  terluka?  Secara pribadi, saya mendapat sanjungan dan pujian dari kalangan internal, tetapi dari luar, ada saja hinaan dan pengrusakan harga diri saya.

*

Saya paling lama di KPU Kabupaten Lebak,  tiga periode, yang berarti sudah 15 tahun bergaul dengan segala sesuatu yang bertalian dengan pilkada, pemilukada,  pemilu, yang juga diwarnai caci maki dan kritik tajam seakan tak bertepi.

Mengapa bisa tiga kali, dan mengapa pula mau tiga kali? Mengapa mau “cuti besar” dari profesi wartawan, padahal ketika itu sudah bekerja di grup media massa cetak dengan tiras sekitar 500.000-an eksamplar, dan dengan kedudukan yang mulai naik ke tangga manajamen redaksional  yang cukup prestisius? Lalu, sudah pula saya kantongi  kartu wartawan utama yang diterbitkan Dewan Pers?  

Terus terang, agar terang terus, saya sendiri tak bisa menjawabnya. Kebebasan, kepuasan batin, bagi saya, memang ada di dunia wartawan.  Pokoknya, setiap kali mau berhenti pada akhir masa jabatan, ternyata selalu saja ada alasan untuk terus mengikuti seleksi anggota KPU lagi.

*

Adalah 15 tahun lalu (ditambah masa jabatan perpanjangan selama enam bulan), saat saya kali pertama jadi anggota KPU Lebak, di rumah ada tujuh orang. Saya, lima orang anak, dan satu istri. Kini, selepas 15 tahun  itu, ternyata di rumah jadi  “pengantin” lagi, kembali ke asal, berdua lagi – karena kelima anak saya sudah “pisah rumah”.

Saya harus menikmati senja hari KPU Lebak dalam  suasana “pengantin” baru,  tetapi dengan  “stok” lama. Ada berkah yang saya peroleh dari KPU Kabupaten Lebak : saya, istri saya, dan lima anak saya  bisa menyelesaikan pendidikan pada strata tertentu.

Ada diskusi  dengan istri, atau saya memanggilnya sang Rembulan Bercadar Awan (RBA), ketika itu. Rumah atau pendidikan? Kami memilih pendidikan. Maka, jadilah kemudian kado terindah saat senja hari KPU Lebak  2014 – 2019.

Pamungkas. Saya lahir di Cianjur (10-08-1956), besar di Bandung, dan dewasa di Rangkasbitung. Mungkin tak akan pulang kampung karena terlanjur  sudah minum air Sungai Ciujung.

Kenangan terindah di Bandung,  tentu saja, saat nyantri di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan. Di sini ada ilmu, ada kitab klasik Islam, ada pula gita cinta dari pesantren, yang akhirnya terus di sisiku sampai sekarang.

Pernah, selama beberapa bulan, saya rata-rata pulang dari kantor menjelang dini hari (ini pasti dirasakan oleh anggota KPU yang lain).  Sang RBA selalu tersenyum membuka pintu. Tak pernah mengeluh. Tetapi,  pedih juga sebenarnya, ketika ada yang tiba-tiba usil, menghina, dan saya disebut Toyib (Bang Toyib) yang memang (dalam sebuah nyanyian) selalu pulang malam.

Tetapi, suatu malam, sesaat setelah membuka pintu, wajah sang RBA tampak begitu pucat, mengigil meski berbaju tebal.  Memang sedang sakit. Saya mengira, sang RBA mau minta  diantar berobat ke klinik yang buka 24 jam di seberang rumah. 

Pertanyaan yang tak terduga sama sekali, dan diucapkan dengan bibir yang kering dan bergetar. “Kang, urang tiasa lebet surga sasarengan moal?” (Kang, apakah nanti kita bisa masuk surga bersama-sama?). Saya memaknai pertanyaan sang RBA itu :  tak akan ada gunanya bekerja siang malam kalau tanpa ridla-Nya. Sia-sia jadi “Bang Toyib”.

Lalu, giliran bibir saya yang kemudian kering dan kaku karena tak bisa menjawab. Sang RBA tak pernah mengeluh. Meski saya selalu ulang malam, tengah malam. Biasanya, mulutnya baru terbuka hanya untuk menjawab pertanyaan. Dan, inilah pertanyaan paling berat, sekaligus terindah saat  menjelang  senja hari KPU Lebak  2014 – 2019.

Dan,…awal Januari 2019, tentulah bulan  terakhir sang RBA melangkah ke bank tempat selama ini setiap bulan mengambil   uang kehormatan. Lalu, uang jabatan akhir dari Pemerintah, sampai tahun 202,  belum juga dibayar. Uang untuk membayar anggota KPU masa jabatan 2014  -2019, tentu saja, tak akan sedahsyat biaya pembangunan IKN atau KCJB. *

SI
Author: SI

Post Views: 184

Continue Reading

Previous: Sang Orator
Next: Konstruksi Realitas Debat Calon Presiden  dan Wakil Presiden Tahun 2024

ARTIKEL LAIN

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
Belajarlah pada Rayap
  • OPINI

Belajarlah pada Rayap

11 Juni 2025
Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?
  • OPINI

Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?

3 Desember 2024

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE