Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • EDITORIAL
  • Kaum Intelektual dan Kekuasaan
  • EDITORIAL

Kaum Intelektual dan Kekuasaan

SI 28 Juli 2024

A. Suryana Sudrajat

Di negeri kita, kaum intelektual  merupakan kelompok elite yang jumlahnya kecil dibanding masyarakat lainnya. Mereka  memiliki keistimewaan antara lain kemampuan membaca dan menganalisis keadaan  sosial, politik, ekonomi, hukum dan lainnya, yang terjadi di masyarakat berkat  pengetahuan dan penalaran yang mereka miliki.

Karena itu, mereka diyakini sebagai  salah satu penentu bagi  maju atau berkembangnya suatu peradaban masyarakat, atau menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Tentunya ke arah  perubahan sosial yang lebih baik.

Kaum cerdik-pandai atau terpelajar ini  berasal dari beragam kalangan dan profesi. Misalnya,  guru, dosen, profesor, mahasiswa, filosof atau pemikir, ekonom, pemuka agama, budayawan, seniman dan lain-lain.

Menurut  Noam Chomsky, yang menulis, The Responsibility of Intellectuals.  kelompok intelektual memiliki peran atau tanggung jawab untuk menyuarakan kebenaran.  dan mengungkap kebohongan penguasa.  Filosof Amerika itu menekankan sasarannya kepada penguasa. Karena dalam pandangannya kelompok memiliki agenda-agenda tertentu yang tidak jarang manipulatif dan berorientasi pada kepentingan kelompok mereka sendiri ketimbang kepentingan bersama.

Akhir-akhir  ini muncul kritik bahwa  sebagian besar kaum intelektual di Indonesia   tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran, tetapi justru menjadi penyokong kekuasaan yang tiranik atau menindas. Bungkamnya para intelektual di era  yang sejatinya harus lebih leluasa menyuarakan kebenaran karena ada kebebasan, memang menjadi tanda tanya besar, kalau bukan mengherankan. Dan pangkal kebenaran, sebagaimana dikatakan Hatta, proklamator kita, adalah mencintai kebenaran tanpa takut sedikit pun.

Mengapa keberanian untuk  menyuarakan kebenaran itu seperti hilang pada sebagian besar intelektual kita? Lalu apa akibatnya?

Hatta pernah menulis mengenai karakter bangsa Jerman di masa Nazi berkuasa di bawah Hitler yang menjadi skandal besar sejarah intelektual. Yaitu Nazi-Fasisme yang ditopang para guru besar universitas.

Nah, berkaca  pada situasi di Jerman, Sukidi, seorang intelektual muda yang meraih Ph.D. dari Harvard University, Amerika Serikat,   pernah menyinggung situasi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang melihat ada paralelisme dengan tulisan Hatta soal Jerman itu. Dia mengatakan, bahwa kaum intelektual di sini punya peran  dalam “kelahiran seorang tiran yang naik ke tampuk kekuasaan atas nama demokrasi atas nama rakyat, tetapi akhirnya berakhir sebagai seorang tiran populis.” Ia juga mengkritik para intelektual di Tanah Air yang  bungkam khususnya ketika hukum dijadikan senjata politik untuk mempertahankan kekuasaan.

Sekarang  plihannya hanya ada dua. Yaitu menjadi  intelektual yang kritis dan terus-menerus menyuarakan kebenaran, serta aktif mewujudkan keadilan. Atau menjadi bagian dari penguas  yang hanya memeningkan diri dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat banyak.

Memang tidak mudah. Sebab, untuk menjadi intelektual sejati diperlukan keberanian, kejernihan berpikir, kejujuran, dan tentu saja pengorbanan. *

SI
Author: SI

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Post Views: 555

Continue Reading

Previous: Lingkaran Problema Gen Z
Next: 79 Tahun Kita Merdeka

ARTIKEL LAIN

Bom Waktu Industri Ekstraktif
  • EDITORIAL

Bom Waktu Industri Ekstraktif

25 Juni 2025
Indonesia  bukan lagi negara hukum?
  • EDITORIAL

Indonesia  bukan lagi negara hukum?

11 Juni 2025
AKSI “INDONESIA GELAP”
  • EDITORIAL

AKSI “INDONESIA GELAP”

10 April 2025

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE