
A. Suryana Sudrajat
Di negeri kita, kaum intelektual merupakan kelompok elite yang jumlahnya kecil dibanding masyarakat lainnya. Mereka memiliki keistimewaan antara lain kemampuan membaca dan menganalisis keadaan sosial, politik, ekonomi, hukum dan lainnya, yang terjadi di masyarakat berkat pengetahuan dan penalaran yang mereka miliki.
Karena itu, mereka diyakini sebagai salah satu penentu bagi maju atau berkembangnya suatu peradaban masyarakat, atau menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Tentunya ke arah perubahan sosial yang lebih baik.
Kaum cerdik-pandai atau terpelajar ini berasal dari beragam kalangan dan profesi. Misalnya, guru, dosen, profesor, mahasiswa, filosof atau pemikir, ekonom, pemuka agama, budayawan, seniman dan lain-lain.
Menurut Noam Chomsky, yang menulis, The Responsibility of Intellectuals. kelompok intelektual memiliki peran atau tanggung jawab untuk menyuarakan kebenaran. dan mengungkap kebohongan penguasa. Filosof Amerika itu menekankan sasarannya kepada penguasa. Karena dalam pandangannya kelompok memiliki agenda-agenda tertentu yang tidak jarang manipulatif dan berorientasi pada kepentingan kelompok mereka sendiri ketimbang kepentingan bersama.
Akhir-akhir ini muncul kritik bahwa sebagian besar kaum intelektual di Indonesia tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran, tetapi justru menjadi penyokong kekuasaan yang tiranik atau menindas. Bungkamnya para intelektual di era yang sejatinya harus lebih leluasa menyuarakan kebenaran karena ada kebebasan, memang menjadi tanda tanya besar, kalau bukan mengherankan. Dan pangkal kebenaran, sebagaimana dikatakan Hatta, proklamator kita, adalah mencintai kebenaran tanpa takut sedikit pun.
Mengapa keberanian untuk menyuarakan kebenaran itu seperti hilang pada sebagian besar intelektual kita? Lalu apa akibatnya?
Hatta pernah menulis mengenai karakter bangsa Jerman di masa Nazi berkuasa di bawah Hitler yang menjadi skandal besar sejarah intelektual. Yaitu Nazi-Fasisme yang ditopang para guru besar universitas.
Nah, berkaca pada situasi di Jerman, Sukidi, seorang intelektual muda yang meraih Ph.D. dari Harvard University, Amerika Serikat, pernah menyinggung situasi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang melihat ada paralelisme dengan tulisan Hatta soal Jerman itu. Dia mengatakan, bahwa kaum intelektual di sini punya peran dalam “kelahiran seorang tiran yang naik ke tampuk kekuasaan atas nama demokrasi atas nama rakyat, tetapi akhirnya berakhir sebagai seorang tiran populis.” Ia juga mengkritik para intelektual di Tanah Air yang bungkam khususnya ketika hukum dijadikan senjata politik untuk mempertahankan kekuasaan.
Sekarang plihannya hanya ada dua. Yaitu menjadi intelektual yang kritis dan terus-menerus menyuarakan kebenaran, serta aktif mewujudkan keadilan. Atau menjadi bagian dari penguas yang hanya memeningkan diri dan kelompoknya ketimbang kepentingan rakyat banyak.
Memang tidak mudah. Sebab, untuk menjadi intelektual sejati diperlukan keberanian, kejernihan berpikir, kejujuran, dan tentu saja pengorbanan. *


