Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • BUKU
  • Mengapa Kita Melakukan Hal yang Kita Lakukan
  • BUKU

Mengapa Kita Melakukan Hal yang Kita Lakukan

SI 28 Juli 2024

Rudy Mulyono

Pernahkah kita mempersoalkan, sebab musabab mengapa kita melakukan sesuatu? Benarkah kita manusia ini mempunyai keinginan bebas? Kurang lebih inilah pertanyaan awal yang muncul di balik gagasan Robert M. Sapolsky, penulis buku Behave, yang kita ulas kali ini.

Dalam formulasi yang lebih filosofis, pertanyaannya menjadi: apa yang menjelaskan fakta bahwa manusia dapat saling membantai satu sama lain, tetapi juga bisa melakukan tindakan kebaikan altruistik yang mengagumkan? Apakah benar bahwa realitas kehidupan adalah peperangan perilaku kebaikan versus kejahatan? Benarkah satu sisi dari sifat kita ditakdirkan untuk menang atas sisi yang lain?

Dalam upaya mencari jawaban atas itu, Robert Sapolsky, yang ahli biologi, melakukan riset panjang, hingga menghasilkan buku ini yang kemudian mengajak pembacanya pada perjalanan melintasi waktu melalui pendekatan beberapa disiplin ilmu.

Dimulai dari penjelasan neurobiologis. Yakni, apa yang terjadi di otak seseorang sedetik sebelum perilaku tersebut terjadi? Kemudian Sapolsky beralih ke bidang penglihatan yang sedikit lebih luas, sedikit lebih awal, seperti pemandangan, suara, atau bau apa yang menyebabkan sistem saraf menghasilkan perilaku tersebut? Lalu, hormon apa yang bekerja beberapa jam hingga beberapa hari sebelumnya terhadap rangsangan yang memicu sistem saraf?

Judul: Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst
Penulis: Robert M. Sapolsky
Penerbit: Penguin Press
Halaman: 790
ISBN: 9781594205071

Lalu penjelasan berlanjut pada, bagaimana perilaku tersebut dipengaruhi oleh perubahan struktural dalam sistem saraf selama beberapa bulan sebelumnya, di masa remaja, kanak-kanak, kehidupan janin, dan kemudian kembali ke susunan genetiknya? Terakhir, ia memperluas pandangannya untuk mencakup faktor-faktor yang lebih besar; seperti, bagaimana budaya membentuk kelompok individu tersebut, faktor ekologi apa telah ratusan tahun membentuk budaya; hingga ke faktor evolusi yang berumur ribuan tahun.

Sapolsky lantas sampai pada pengakuan bahwa ia merasa mustahil untuk menjalani hidupnya secara bebas. Ia menasihati agar kita berpikir lebih hati-hati mengenai tindakan kita. Karena bisa jadi, dorongan seperti itu akan menjadi bagian baru dari rantai sebab akibat yang akan memengaruhi perilaku setiap individu. Artinya, ia mendorong pembacanya untuk bertindak lebih ramah lingkungan.

Catatan dan sekaligus dianggap membawa pembaca pada perenungan dari buku ini adalah: pertama,  bahwa perilaku kita merupakan hasil tarian rumit antara gen kita dan lingkungan kita. Pengalaman di usia dini, misalnya,  bisa meninggalkan bekas yang awet di otak kita. Ia memengaruhi sifat kepribadian kita. Kedua, bahwa keputusan kita dibentuk oleh interaksi kompleks antara bias bawah-sadar, adaptasi evolusioner, dan situasi yang mendesak. Memahami kekuatan tersembunyi ini dapat membantu kita mengembangkan kesadaran-diri dan membuat pilihan yang lebih informasional. Ketiga, terdapat kekuatan hormonal yang berpengaruh pada seseorang. Bahan kimiawi—seperti hormon testosteron hingga oksitosin—memengaruhi agresi, empati, ikatan sosial, dan bahkan respons kita terhadap ideologi politik.

Keempat, terdapat akar evolusioner dari perasaan kita tentang benar dan salah. Watak empati dan kerjasama, mungkin telah tertanam pada kondisi biologis kita. Memahami kecenderungan ini dapat membantu kita mendorong dunia yang lebih etis dan kasih sayang kasih. Kelima, bahwa perilaku manusia bersifat kompleks, yang dibentuk oleh konstelasi faktor-faktor yang unik. Dengan memupuk empati dan pemahaman, kita dapat terhubung satu sama lain dengan lebih dalam. Keenam, bahwa perilaku kita tidak pernah terisolasi. Perilaku adalah produk dari konteks spesifik yang kita temui; seperti budaya, latar belakang sosioekonomi, dan bahkan rangsangan segera yang kita alami.

Karena itu, dari buku Behave inii kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang pengalaman manusia dalam segala kompleksitasnya. Dari membaca buku ini, kita dapat memulai perjalanan penemuan-diri dan berkontribusi pada pembentukan dunia yang lebih manusiawi. *

SI
Author: SI

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Post Views: 360

Continue Reading

Previous: Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka
Next: Melacak Akar Kemiskinan dan Kesejahteraan

ARTIKEL LAIN

Politik Jatah Preman dan Relasi Kuasa Negara
  • BUKU

Politik Jatah Preman dan Relasi Kuasa Negara

25 Juni 2025
Ajakan  Filosof Muslim 1000 Tahun Lalu
  • BUKU

Ajakan  Filosof Muslim 1000 Tahun Lalu

11 Juni 2025
Legasi Mar’ie Muhammad
  • BUKU

Legasi Mar’ie Muhammad

10 April 2025

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE