Judul : Seni Berpikir Kritis: Menakar Kebenaran Sejak dalam Pikiran
Judul asli : Manthiq al-Masyriqiyyîn
Pengarang : Ibnu Sina
Halaman : 268
Penerbit : Turos Pustaka, 2025
. . .
Ibnu Sina, atau dikenal juga sebagai Avicenna di dunia Barat, adalah tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam dan dunia. Ia dikenal sebagai seorang filsuf, dokter, dan ilmuwan yang pemikirannya masih dibahas hingga hari ini. Sejarawan sains George Sarton menyebutnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia filsafat dan kedokteran.
Lahir pada tahun 980 M di wilayah yang kini menjadi Uzbekistan, Ibnu Sina sudah menunjukkan kecerdasannya sejak kecil. Di usia 10 tahun ia sudah hafal Al-Qur’an dan menguasai berbagai ilmu, termasuk matematika dan logika. Di usia 16 tahun ia mulai praktik sebagai dokter, dan dua tahun kemudian sudah menjadi dokter istana. Sepanjang hidupnya, ia menulis lebih dari 450 buku, dengan sekitar 240 yang masih bisa ditemukan. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Al-Qanun fi al-Tibb, buku kedokteran yang jadi rujukan utama di Eropa dan dunia Islam selama berabad-abad.
Buku Seni Berpikir Kritis: Menakar Kebenaran Sejak dalam Pikiran adalah terjemahan dari salah satu karya filsafat dan logika Ibnu Sina yang berjudul Manṭiq al-Masyriqiyyīn. Buku ini ditulis menjelang akhir hidupnya dan berisi pandangan baru tentang cara berpikir dan bernalar. Ia mengkritik cara berpikir lama yang terlalu kaku, yang berasal dari filsafat Yunani kuno, khususnya pemikiran Aristoteles. Ibnu Sina merasa bahwa logika tidak boleh hanya dipahami sebagai aturan yang kaku, tapi harus bisa mengikuti cara berpikir manusia yang lebih fleksibel. Ia kemudian menawarkan pendekatan baru yang lebih terbuka dan intuitif, yang disebut sebagai pendekatan “Timur” (masyriqiyyah), meski istilah ini tidak disebutkan langsung dalam bukunya.
Buku ini terbagi menjadi tiga bagian utama. Pertama adalah tashawwur (konsepsi), yang menjelaskan bagaimana manusia membentuk pemahaman awal terhadap sesuatu. Kedua adalah imtihan (observasi) yang membahas cara kita mengenali dan menguji ciri-ciri atau sifat yang melekat pada suatu objek atau ide. Dan terakhir adalah tashdiq (justifikasi), bagian yang mengulas bagaimana kita bisa menentukan apakah suatu pernyataan itu benar atau salah, dengan melihat apakah pernyataan itu bersifat umum, khusus, positif, atau negatif. Ketiga bagian ini membentuk dasar cara berpikir yang ditawarkan oleh Ibnu Sina.
Menurut Ibnu Sina, logika adalah alat bantu berpikir yang membantu kita berpindah dari hal-hal yang sudah kita ketahui menuju hal-hal yang belum kita ketahui. Dengan logika, kita bisa menghindari kesalahan berpikir dan jebakan ilusi yang bisa menyesatkan. Baginya, logika bukan sekadar aturan, tetapi juga jalan untuk memahami dunia secara lebih mendalam.
Di dalam buku ini, Ibnu Sina juga menjelaskan beberapa konsep penting dalam logika, seperti hubungan antara subjek dan predikat dalam kalimat, perbedaan antara definisi yang penting dan yang hanya tambahan, serta bagaimana memahami kontradiksi. Semua ini disampaikan dengan tujuan agar logika bisa digunakan oleh siapa pun, di mana pun, tanpa terikat oleh bahasa atau budaya tertentu.
Buku ini penting dibaca, terlebih di tengah luberran informasi yang sebagiannya jauh dari kebenaran. [M. Akhyar Amin]


