
RUDY MULYONO
Judul buku ini terasa nyeleneh dan agak aneh. Kok ada “makhluk halus” masuk ke ranah politik kontemporer. Namun bagi para pengkaji antropologi dan etnografi, lazim dan biasa saja. Buku yang diterbitkan dari hasil penelitian Nils Bubandt, profesor Antropologi dari Aarhus University, Denmark, ini menarik untuk dibaca dan dibahas karena dapat membuka kajian baru terkait dunia gaib dan politik Indonesia. Buku ini juga menjadi kajian etnografis berbasis multi-sited etnography dan memperkaya literatur para akademisi di bidang Antropologi untuk melakukan studi di bidang terkait.
Bagaimanakah seorang peneliti menyingkap keterkaitan hal-hal gaib dalam pelaksanaan demokrasi, korupsi, dan politik di Indonesia? Nils Bubandt mulai serius melakukan studi etnografi sejak awal 1990-an. Buku yang dirilis dari hasil penelitian etnografi selama kurang lebih dua tahun, antara tahun 2001—2002, di Maluku Utara dan Jawa Timur ini, menyorot tentang kyai, blogger, politisi, sultan, dan nabi. Telusurannya jadi menarik karena dibingkai dalam kerangka kajian terhadap dunia politik dan dunia jin. Sebagai konsumsi publik buku setebal 296 halaman ini diberi judul “Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer”, diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Februasi 2017.
Buku ini terbagi dalam lima bagian yang masing-masing berkisah tentang sosok-sosok politisi dan hubungannya dengan dunia gaib. Sosok pertama yang diceritakan adalah Kyai Muzakkin asal Jawa Timur yang memiliki pesantren khusus jin dan mengirimkan pasukan jinnya untuk mengamankan demonstrasi anti korupsi di Jakarta. Sementara di sisi lain, juga diungkapkan tanggapan negatif para blogger tentang hal tersebut. Ada pula kisah tentang Sultan Ternate Ke-48, Mudaffar Sjah, yang ketika itu mencalonkan diri sebagai gubernur Maluku Utara. Masih tertata dalam anggapan khalayak di sana bahwa setiap perintah sultan mesti dipatuhi dan tabu dilanggar. Salah satu akibat dari kontestasi politik itu ialah si pesaing yang berusaha mengalahkannya dalam pemilihan gubernur itu kemudian meninggal dunia.
Bagi masyarakat Indonesia, yang telah melangsungkan demokrasi elektoral lebih dari lima belas tahun, masih saja memiliki problem psikologi politik yang kompleks. Buku ini pun seolah hendak mengungkap paradoks demokrasi dalam masyarakat Indonesia dengan membawa asumsi bentuk-bentuk gaib dalam budaya masyarakat dan imajinasi para politisinya. Ada semacam karakter mirip makhluk halus dalam demokrasi dan korupsi yang menyusup ke dalam media nasional dan elit politik. Hal itu tampak dalam telusuran atas biografi wirausahawan politik, yang kesemuanya memanfaatkan makhluk halus dalam kontestasi politiknya. Hubungan makhluk halus dan “keberhasilan” politik itulah yang dianggap sebagai potret demokrasi Indonesia yang penuh kontradiksi. Ini suatu eksplorasi mendalam yang menunjukkan kelindan dunia politik dan dunia makhluk halus. Menurut penulisnya, itulah masalah khas demokrasi Indonesia kini. *


