Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • OPINI
  • Sang Orator
  • OPINI

Sang Orator

SI 7 Desember 2023

Dean Al-Gamereau

Zaman Demosthenes, kita pastikan ada kampanye pemilihan, ada orasi atau pidato politik, mungkin  juga ada pembagian bahan kampanye  seperti di kita sekarang ini. Namun, kita pastikan tak akan ada debat publik di televisi.

KAUM Sofis di Yunani mengembara, keluar masuk kota, suatu zaman sekira 400 tahun sebelum masehi (SM). Mereka mengajari rakyat tentang politik dan pemerintahan  dengan cara berdialog.  Kaum Sofis  berkampanye,  Pemerintah  harus berdasarkan suara terbanyak  –  yang kelak kita kenal dengan nama  demokrasi.   Masih di Yunani, Demosthenes (384 – 322 SM), seorang orator dan politisi,  gigih mempertahankan kemerdekaan  Athena atas ancaman Raja Philipus dari Macedonia.

Ketika itu, sudah jadi anggapan umum, bahwa  di tempat mana pun ada  sistem pemerintahan yang berdaulat, maka di situlah  harus ada pemilihan berkala, dari rakyat, oleh rakyat,  untuk rakyat. Satu hal yang  seakan jadi keharusan, dan  sekaligus jadi ciri kelebihan para calon pemimpin,  yakni mahir berbicara di depan umum, alias ahli berpidato, jadi orator. Harus jadi  “Singa Podium”

Lalu, kaitan mahir berpidato, keterpilihan jadi pemimpin, dan demokrasi?  Semuanya jadi tali-temali. Seseorang yang ingin terpilih jadi pemimpin, dalam sebuah  pemerintahan dari rakyar, oleh rakyat, dan untuk rakyat itu, maka haruslah jadi orator, mahir berbicara, mahir meyakinkan khalayak. Kegiatan kampanye dalam rangkaian pemilihan atau pemilihan umum, adalah kegiatan meyakinkan khalayak agar mau menggunakan hak pilih untuk  yang bersangkutan.

Zaman Demosthenes, kita pastikan ada kampanye pemilihan, ada orasi atau pidato politik, mungkin  juga ada pembagian bahan kampanye  seperti di kita sekarang ini. Namun, kita pastikan tak akan ada debat publik di televisi.

Ada 61 naskah pidato Demosthenes  yang terkenal, yang sampai kini  masih tersimpan di museum. Pidatonya  yang terindah adalah  sambutan  ketika berhasil menyingkirkan lawan politiknya,  Aichanes. Judul pidatonya yang disampaikan di hadapan rakyat pemujanya itu, cukup romantis, “Tentang Karangan Bunga”.

*

Untuk apa pidato, apakah harus seperti Demosthenes? Kata Protagoras (500 – 430 SM), pidato itu bukan untuk kemenangan, melainkan untuk keindahan bahasa. Lain lagi kata Socrates (496 – 339 SM), pidato untuk kebenaran melalui dialog. Lengkap rasanya kalau disatukan, pidato itu untuk kebenaran, tetapi ditempuh melalui  keindahan. Para calon dan  juru kampanye pemilu 2019, agakya, bisa berguru kepada Protagoras dan Socratos sekaligus.

Demosthenes, jauh sebelum jadi orator, sesungguhnya dirundung malang terlebih dahulu. Lelaki yang ayahnya  pun bernama Demosthenes ini, sesungguhnya  gagap bicara. Pernah menanggung malu ketika diturunkan khalayak saat berpidato.

Demosthenes kemudian mengasingkan diri untuk belajar pidato. Dia berbicara  di pantai, pada  pasir putih.  Gelombang dahsyat dilawannya dengan teriakan sekeras-kerasnya. Demosthenes menyumpal mulutnya dengan kerikil,  lalu berpidato sejadi-jadinya. Rambutnya dicukur habis,  tetapi sebelah, supaya malu ke luar dari gua yang dibangunnya.

Tekadnya yang kuat itu, dan dengan cara belajar yang tak lazim, suami dari seorang perempuan bernama Skyth ini memang akhirnya jadi ahli pidato, jadi orator, jadi juru kampanye yang mahir dan  menyihir massa. Pidatonya  tanpa bunga-bunga, jelas dan keras. Narasi dan argumentasi digabungkannya dengan baik. Salah satu kebiasannya, kalau naik mimbar, Demosthenes meletakkan tangan di dahinya. Isyarat sedang berpikir.

Suatu waktu, lawan politiknya, Aichanes, kalah dalam persidangan  tentang pantas tidaknya Demosthenes diberi penghargaan oleh Pemerintah. Aichanes  mengasingkan diri,  jadi guru pidato yang miskin. Demosthenes tahu, lalu mengirim sejumlah uang kepada  penentangnya itu, hanya  atas nama sesama kaum profesional  ahli pidato (juga sesama politisi). “Pabrik” manusia model Demosthenes, agaknya, kini sudah tutup.

Demosthenes pernah memberontak untuk membantu Athena agar bebas dari kekuasaan Makedonia yang didukung Aristoteles. Demosthenes gagal memberontak, ditangkap, dan dipenjara pada tahun 322 SM.  Demosthenes kabur, lalu ditemukan sudah tak lagi bernyawa. Banyak yang menyebut, Demosthenes bunuh diri dengan minum racun pada usianya yang ke-65 ini. Di Athena, ada patung Demosthenes yang dibangun masyarakat setempat.  Di situ tertulis (Tambunan, 210 : 32), “Hai Demosthenes, andaikan engkau memiliki cukup kekuasaan seperti kebijaksanaanmu, maka tak pernah Raja Macedonia akan menjadi penguasa bangsa Yunani”.

Tak semua  orang diberi  kekuasaan dan sekaligus kebijaksanaan, memang. Kalau seorang penguasa ingin melengkapi dirinya dengan kebijaksanaan,  atau seorang bijaksana ingin melengkapi dirinya dengan kekuasaan, itu mah normal. Orang Athena mungkin benar, kalau kekuasaan dan kebijaksanaan tak dimiliki sekaligus, negara akan mudah dikuasai orang lain, seperti   halnya Athena yang  mudah dikuasai oleh Raja Makedonia. Tetapi, kata orang, kekuasaan itu lebih nikmat dari seks. Duh…

*

Pilih saya! Pilih partai saya! Pilih pasangan calon saya!”  Tepuk tangan pun bergemuruh di lapangan terbuka dan luas. Mereka leluasa, karena memang  sedang diberi keleluasaan untuk melakukannya. Kini, masa-masa mereka jadi orator politik, membangun pesan, merangkai citra, demi dan untuk keterpilihan mereka di arena pemilu.

Rumah kita, sekali waktu, mungkin didatangi tamu parpol atau calon, atau tim kampanye yang dengan santunnya mengetuk pintu, lalu mengucap salam, tersenyum, sambil menyerahkan cendera mata, seperti gelas, piring, kaos, atau bahkan kerudung – yang semuanya  mengandung pesan politik.

Tak apa-apa, terimalah, karena sekarang memang tahun politik, bulan-bulan kampanye, setidak-tidaknya untuk menyebarkan bahan-bahan  kampanye seperti disebut tadi. Pada hari berikutnya, mungkin hadir bertamu  yang berbeda, dari parpol atau calon yang berbeda,  terimalah pula, tak apa-apa, balas pula senyum dan ke-ramah tamah-an mereka. Semua pasti datang dengan semangat dan perhatian yang serius. Kita bisa menerima bermacam-macam cendera mata dari banyak parpol  atau dari banyak calon, tetapi pilihan yang sah tentu saja tak  bisa sebanyak-banyaknya karena dibatasi aturan. Perkara yang tak boleh diterima, adalah  uang, berapa pun, akan jadi money politic. Jadilah pemilih yang cerdas!

Pamungkas. Kata seorang filosof, penuis buku, Bertrand Russell (1872 – 1970), “Jika seseorang menawarkan kepadamu demokrasi dan orang lain menawarkan sekantung gandum, pada tingkat kelaparan seperti apakah kamu lebih menyukai gandum daripada pemungutan suara.Terj. Lily”. Kata.penulis esai dan editor New York Times. Simeon Strunsky (1879 -1948), “Jika Anda ingin memahami demokrasi, gunakanlah sajasedikit waktu Anda untuk duduk dalam perpustakaan bersama Plato, dan duduklah  lebih lama   di dalam bus-bus  kota bersama rakyat. Terj. Lily”.*

SI
Author: SI

Post Views: 326

Continue Reading

Previous: Abu Bakar dan Dwitunggal Muhajirin – Ansar
Next: Senja Hari Anggota KPU Lebak

ARTIKEL LAIN

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
Belajarlah pada Rayap
  • OPINI

Belajarlah pada Rayap

11 Juni 2025
Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?
  • OPINI

Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?

3 Desember 2024

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE