Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • OPINI
  • Abu Bakar dan Dwitunggal Muhajirin – Ansar
  • OPINI

Abu Bakar dan Dwitunggal Muhajirin – Ansar

SI 5 Desember 2023

Dean Al-Gamereau

Hampir saja, umat Islam “terbelah”, ukhuwah Islamiah (persaudaraan atas dasar tauhid) yang sudah kokoh terbangun, kemudian nyaris  pecah,  pasca-Rasulullah saw wafat.  Kaum Ansar menginginkan Saad bin Ubadah (seorang kepala kaum Khazraj) tampil sebagai sebagai kepala negara, menggantikan  Rasululullah  saw.

Di  sebuah ruang pertemuan, Tsaqifah Bani Saidah,  kaum Ansar (muslim Madinah) menyeru kepada kaum Muhajirin (muslim asal Makkah), “minnaa amiirun wa minkum amiirun” (kita punya pemimpin masing-masing saja!). Abdurrahman bin Abu Quhafah bin Amir, atau  kita mengenalnya  Abu Bakar, yang hadir dalam pertemuan itu menyela, “nahu al-umaraa wa  antum  al-wuzaraa” (kami pemimpin, sedangkan kamu perdana menterinya).

Seorang sahabat, Habbab bin Al-Munzir menolak, “Demi Allah, Tak akan kami lakukan! Kita (kaum  Ansar dan  kaum Muhajirin) punya pemimpin masing-masing saja”. Sekali, lagi Abu Bakar menegaskan, ‘Tidak! Kami umaraa (pemimpin) dan kamu wuzaraa (perdana menteri)

Di tengah-tengah perdebatan, hadirin  Saqifah Bani Saidah  mau mem-bay’at (mengambil sumpah setia), dengan   menyodorkan dua orang terbaik : Umar  bin Khattab atau Abu Ubaidah bin  Al-Jarrah. Umar menoleh kepada Abu Bakar, “Sebetulnya, saya ingin mem-bay’at Anda, karena  Andalah  yang terbaik  di antara kami, dan paling dicintai Rasulullah”.

Tanpa diskusi atau musyawarah, Umar segera mengambil tangan Abu Bakar untuk  mem-bai’at-nya (melantik, mengambil sumpah setia), yang ternyata  diikuti pula oleh kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Umar sangat beribawa, sanggup  “meredakan” perseteruan, Sebelumnya, Abu Bakar sendiri, di tengah-tengah perdebatan,  mengajukan dua calon utama  pengganti Rasulullah saw :  Umar bin Khattab sendiri atau  Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. “Saya rela, silakah pilih salah seorang di antara mereka…” tegas Abu Bakar.

Tampaknya, pengambilan sumpah setia terhadap Abu Bakar sebagai khalifah itu, tanpa Al-Qur’an di atas kepalanya. Soalnya,  saat itu,  belum ada Al-Qur’an yang sudah di-buku-kan seperti sekarang. Pidato kenegaraan pertama Abu Bakar menunjukkan kerendahan hati (bukan rendsah diri), “Aku dpilih untuk memimpinmu, pdahal akau bukan yang terbaik di antara kamu..”

Catatan penting di sini. Ada kalimat yang  mengajak  “terbelah”, yakni minnaa (masing-masing saja). Tetapi, Abu Bakar tampil dengan koreksi dan semangat persatuan Islam, persatuan umat Islam :  “ nahnu” dan “antum” yang tetap dalam satu wadah dengan semangat satu kesatuan kedaulatan Islam, tetapi berbagi peran dan pesan :  seorang jadi amir dan yang lain  jadi wazir.

Ada relasi struktural amir dan wazir.  Minnaa adalah ajakan untuk kedaulatan masing-masing, tanpa relasi struktural, dan hanya relasi kultural. Penyelesaian konflik kaum Muhajirin dan kaum Ansar itu sekaligus pula sebagai pemeliharaan ukhuwwah Islamiah di kalangan umat Islam pada waktu itu. Muhajirin dan Ansar tetap  terkoneksi dalam kehidupan sehari-hari, dengan tetap tanpa membubarkan komunitas Muhajirin dan Komunitas Ansar. Muhajirin dan Ansar hanya bisa dibedakan, tetapi tak bisa dipisahkan.

Abu Bakar tampil sebagai pemersatu pada saat-saat kegentingaan terjadi, pada saat-saat umat Islam terancam “terbelah”, bukan soal Al-Qur-an, As-sunnah, kiblat, atau Kabah, melainkan  soal riyaasah (kepemimpinan)  dan siyaasah (politik).Bukan soal ajaran, melainkan soal administrasi.

Abu Bakar menggunakan jalan tengah : tak berpihak kepada Muhajirin, juga tak berpihak kepada Ansar, tetapi kedua-duanya “dirangkul” dalam “dwitunggal” amir dan wazir. Abu Bakar berhasil menyelesaikan konflik berbekal seorang diplomat moderat dalam berpolitik praktis. 

Semangat Abu Bakar, dan “Abu Bakar”  berikutnya,  pasti diperlukan sepanjang masa : piawai memadamkan konflik, pengambil kebijakan yang tak melukai siapa pun atau pihak mana pun. Abu Bakar berhasil memelihara dwitunggal Muhajirin – Ansar! Nyatanya kini, orang yang beribadah haji  atau umrah ke tanah amir (Muhajirin, Makkah), mesti saja  ziarah ke tanah wazir (Ansar, Madinah). Makkah dan Madinah jadi dwitunggal. Ada sentuhan Abu Bakar di situ. *

SI
Author: SI

Post Views: 511

Continue Reading

Previous: Nyanyi Pagi 17 April 2019
Next: Sang Orator

ARTIKEL LAIN

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
Belajarlah pada Rayap
  • OPINI

Belajarlah pada Rayap

11 Juni 2025
Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?
  • OPINI

Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?

3 Desember 2024

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE