Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • OPINI
  • Khalifah Umar dan Tenda di Batas Kota
  • OPINI

Khalifah Umar dan Tenda di Batas Kota

SI 22 November 2023

Dean Al-Gamereau

Ketika rakyat dalam kesusahan, para pemimpin seharusnya bertanggungjawab. Sayang paea pemimpin umumnya malas turun ke bawah, mengetahui keadaan rakyat yang sesungguhnya. Bukan hanya terima laporan. Bagaimana dengan para calon pemimpin?

Suatu malam, Khalifah Umar keluar masuk kampung, dan sampailah di batas kota. Ada sebuah tenda yang baru saja dilihatnya. Tenda didekati, di dalamnya ternyata ada sepasang suami istri yang tampak sedang susah. Terdengar istrinya menangis. Suaminya bingung sekali. Khalifah Umar masuk ke tenda, dan berbicara  kepada suaminya. Jawabnya, “Baru saja saya tiba di sini. Saya bingung. Istri saya mau melahirkan”.

Khalifah Umar segera pulang, lalu mengajak istrinya, Ummu Kulsum, menuju tenda  untuk menolong persalinan. Tiba di tenda, Ummu Kulsum menolong persalinannya.  Khalifah Umar  sibuk membuat makanan, di luar tenda, dan dibantu oleh suami perempuan yang sedang ditolong persalinannya  itu.

Tidak lama kemudian, terdengar tangis bayi dari  dalam tenda. Ummu Kulsum keluar membawa bayi, lalu  memperlihatkannya kepada Khalifah Umar.  “Sudah selamat, Amirul Mukminin! Bayinya sehat, cakep pula,”  kata Ummu Kulsum.

Ketika mendengar nama amirul mukminin,  sang suami yang sedari tadi membantu membuat  makanan itu, tiba-tiba gemetar, terkejut, dan sangat takut,  lalu bersimpuh di kaki Khalifah Umar. “Sudahlah, Anda jangan begitu! Ini kewajiban saya sebagai khalifah,” katanya.

Khalifah Umar dan istrinya meninggalkan tenda di batas kota itu, diiringi rasa bahagia sudah menolong orang lain. Khalifah Umar  “menjemput bola”,  bukan “menunggu bola”,  atau menunggu laporan bawahan. Ketika rakyat susah, pemimpin pun hakikatnya akan diminta pertanggungjawabannya.

Dekat dengan Rakyat

Kita sering sekali menyaksikan calon pemimpin keluar masuk kampung, bertemu dan bercanda dengan rakyat, dalam suasana yang hangat dan menyenangkan. Bukan saja datang langsung kepada rakyat, berbicara  kepada rakyat dan  berbicara dengan rakyat,  juga sosok mereka bisa kita saksikan  pada spanduk atau  baliho,  juga  pada stiker.  Semua sangat menarik, dan punya daya tarik.

Salahkah mereka? Justru mereka merasa wajib  bertamu dan bertemu dengan rakyat pemilih. Ini memang saatnya untuk membangun citra diri, sekaligus harga diri – yang dikemas dalam bingkai “kampanye”.

Mereka pun rajin tersenyum, berusaha menarik simpatik  – dan memang wajar untuk calon pemimpin yang sedang berusaha menarik simpatik,  Semua disapa. Untuk perolehan suara, baik di kota maupun  di kampung akan sama saja :  satu kepala satu suara. Suara sah seorang profesor akan sama nilainya dengan suara sah seorang pemulung.

Kebiasaan bertamu dan bertemu dengan rakyat adalah kebiasaan Umar bin Khattab ketika jadi khalifah. Tak diketahui sebelumnya, apakah Umar bin Khattab suka keluar masuk kampung atau tidak ketika masih hanya seorang Umar bin Khattab. Mungkin saja,

Satu hal. Khalifah Umar, kalau keluar masuk kampung,  tak pernah dikawal secara khusus, seperti lazimnya para pemimpin zaman sekarang. Lelaki yang ada di tenda di batas kota itu, baru tahu bahwa  orang yang ada di hadapannya itu khalifah, karena memang tanpa pengawal. Kita memetik pelajaran dari tenda di batas kota : Khalifah Umar tak punya batas dan sekat dengan rakyatnya. Dekat dengan rakyatnya, mau menolong rakyatnya secara langsung. Dalam tenda di batas kota itu, Umar bin Khattab menanggalkan jabatan “prestisius”nya sebagai khalifah. Seorang Umar bin Khatab  berbaur langsung dengan rakyatnya. Tahu persis keinginan dan kebutuhan rakyatnya. Pemimpin seperti ini yang sedang dirindukan umat. *

SI
Author: SI

Post Views: 207

Continue Reading

Previous: Wartawan: Antara Profesi dan Panggilan Hidup
Next: Percikan Gagasan Sosiokapitalisme Tryana Sjam’un

ARTIKEL LAIN

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
Belajarlah pada Rayap
  • OPINI

Belajarlah pada Rayap

11 Juni 2025
Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?
  • OPINI

Kabinet Gemuk, Akankah Jadi Solusi?

3 Desember 2024

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE