Encep Supriatna *)
Pendiri bangsa atau founding fathers Indonesia adalah mereka yang dengan gagah berani memperjuangkan kemerdekaan dan meletakkan dasar-dasar bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan dasar negara yaitu Pancasila, yang merupakan hasil perjanjian rumit para tokoh tersebut.
Nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Ki Hajar Dewantara telah menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam mengemban tugas besar menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata. Dari mereka, kita dapat belajar banyak tentang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Visi dan Misi yang Jelas
Para pendiri bangsa memiliki visi yang jelas tentang Indonesia merdeka. Mereka tidak hanya bermimpi tentang kemerdekaan, tetapi juga memikirkan bagaimana negara ini akan berjalan setelah merdeka. Bung Karno, misalnya, dengan tegas mengemukakan visi Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Visi ini tercermin dalam Pancasila, yang kemudian menjadi dasar ideologi negara.
Kita belajar dari mereka bahwa dalam mewujudkan cita-cita, kita harus memiliki visi yang jelas dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan hal itu termaktub dalam preambule atau Mukaddimah UUD 1945.
Keteguhan dalam Memperjuangkan Prinsip
Mereka tidak hanya berwacana, tetapi juga bertindak. Perjuangan kemerdekaan bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak tantangan, hambatan, dan pengorbanan yang harus dihadapi, terutama penjajah. Namun, para pendiri bangsa tetap teguh dalam memperjuangkan prinsip-prinsip mereka.
Mohammad Hatta, misalnya, selalu menekankan pentingnya demokrasi dan kedaulatan rakyat, serta ekonomi kerakyatan sebagai soko gurunya adalah koperasi.. Meski sering kali berada dalam posisi yang sulit, mereka tidak pernah goyah dalam keyakinan mereka. Dari mereka, kita belajar tentang pentingnya keteguhan hati dan keberanian dalam mempertahankan prinsip-prinsip perjuangan untuk mewujudkan welfare state (negara sejahtera).
Persatuan di Tengah Perbedaan
Indonesia adalah negara yang sangat beragam, baik dari segi budaya, suku, agama, maupun bahasa. Para pendiri bangsa menyadari hal ini dan berusaha keras untuk menyatukan semua elemen masyarakat dalam satu bingkai kebangsaan. Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah salah satu contoh nyata dari upaya tersebut. Persatuan dan kesatuan menjadi pondasi yang kokoh dalam mewujudkan kemerdekaan.
Dari mereka, kita belajar bahwa dalam mencapai tujuan bersama, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang harus dikelola dengan bijak, bukan justeru menghasilkan perpecahan.
Pendidikan dan Pencerahan
Ki Hajar Dewantara, yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Ia mendirikan Taman Siswa sebagai wadah pendidikan yang memupuk semangat kebangsaan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga untuk membangun karakter yang kuat dan cinta tanah air.
Dari Ki Hajar Dewantara, kita belajar bahwa pendidikan adalah alat yang ampuh untuk membangun bangsa yang merdeka, cerdas, dan bermartabat. Dengan Semboyan Ing Ngarso Sung tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut wuri handayani.
Kolaborasi dan Gotong Royong
Pendiri bangsa tidak bekerja sendirian. Mereka memahami pentingnya kolaborasi dan gotong royong dalam mencapai tujuan besar. Soekarno selalu mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong dalam membangun bangsa.
Prinsip gotong royong ini menjadi salah satu nilai dasar dalam Pancasila. Dari mereka, kita belajar bahwa tidak ada tujuan besar yang bisa dicapai sendirian; kerja sama dan saling membantu adalah kunci sukses dalam mewujudkan cita-cita bersama. Kendatipun saat itu ada golongan yang cooperatif terhadap Belanda ada juga yang Non Cooperatif.
Keberanian Mengambil Keputusan
Momen Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 adalah salah satu bukti keberanian para pendiri bangsa dalam mengambil keputusan penting. Soekarno dan Hatta dengan berani memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di tengah situasi yang penuh ketidakpastian dan tekanan dari berbagai pihak. Terutama kalangan pemuda, hingga mengamankan dua proklamator ini ke Rengasdengklok.
Keputusan itu menunjukkan bahwa dalam situasi kritis, keberanian untuk mengambil tindakan tegas sangat diperlukan. Dari mereka, kita belajar pentingnya kepemimpinan yang berani dan tegas dalam menghadapi tantangan.
Para pendiri bangsa selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Mereka berjuang bukan untuk kepentingan pribadi. Tetapi untuk kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia. Hal ini terlihat dalam berbagai kebijakan dan langkah-langkah yang mereka ambil selama masa perjuangan dan setelah kemerdekaan.
Dari mereka, kita belajar bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat dan bersedia berkorban demi kesejahteraan bersama. Bukan justeru mengumbar kepentingan golongan keluarga atau dinasti secara mencolok dengan mengutak atik konstitusi yang ada sehingga mengorbankan kepentingan nasional.
Belajar dari para pendiri bangsa adalah upaya untuk menginternalisasi nilai-nilai luhur yang telah mereka tanamkan dalam perjalanan sejarah bangsa.
Visi yang jelas, keteguhan dalam prinsip, persatuan, pendidikan, kolaborasi, keberanian, dan kepentingan rakyat adalah beberapa pelajaran penting yang dapat kita serap dari mereka.
Dengan meneladani semangat dan nilai-nilai ini, kita dapat terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu membangun Indonesia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih makmur bagi semua.
*) Pembina Salakanagara Institute


