Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • FOKUS
  • Mengenang Kemerdekaan
  • FOKUS

Mengenang Kemerdekaan

SI 13 Agustus 2024

Rudy Mulyono

Kemerdekaan adalah “jembatan emas”. Saat kita berdiri di sebuah jembatan, ada dua arah yang bisa kita pandang; ke belakang, hingga ke arah tepat kita berdiri kini; dan ke depan—dari tempat kita berdiri hingga sampai pada yang kita cita-citakan. Itulah yang hampir selalu kita lakukan manakala tiba saat memperingati Proklamasi Kemerdekaan.

Sejenak pikiran kita menelusur beberapa pembabakan sejarah hingga Indonesia merdeka sebagai bangsa, 17 Agustus 1945.

Perjuangan dan perlawanan itu kita mulai sejak kita merasa—sebagai bangsa—dijajah. Orang asing boleh saja masuk ke wilayah kita, Nusantara, melihat-lihat, saling mengenal, bergaul, berniaga dan lain-lain, bahkan tinggal untuk menetap dan ikut menjadi warga pun, dipersilahkan. Asal saja sesuai dan mau mengikuti tata-aturan yang berlaku di sini. Tapi kalau hendak mengganggu penduduk dan lingkungan atau bahkan menjajah, maka itu tidak boleh, kita tentang dan lawan.., kita usir.

Sebelum tibanya “orang-orang asing” menjajah bumi Nusantara kala itu, berbagai penataan dan pemerintahan di antero wilayah telah berdiri, sesuai dengan tingkat pengetahuan elite dan tokoh yang memimpin dan dipatuhi oleh para warganya. Berbagai wilayah itu dikenal dengan kerajaan-kerajaan—baik besar atau kecil—yang memiliki  otonomi melalui berbagai tahap pembentukan—dengan damai atau perang. Tersebutlah nama Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Majapahit dan yang lainnya. Dalam cerita tutur di tengah masyarakat, terjadi dinamika dan ragam bergulatan pada tiap-tiap tahta pemerintahan dan tatanan masyarakat itu.

Tibalah saatnya ketika mereka (orang-orang asing) datang, dengan membawa kepentingan yang berlawanan dengan keinginan dan manfaat bagi “penduduk” atas bumi, air dan kekayaan alam. Kepentingan asing itu, mereka wujudkan dengan setidaknya dua cara; kelicikan dan penipuan, serta penguasaan dan perampasan. Yang pertama menggunakan kepintaran, dan yang kedua memakai kekuatan dan kekerasan (senjata). Sementara warga Nusantara, yang “kalah”—dalam menghadapi dua kekuatan itu—ialah karena lemah-karakter dan kalah cerdik, serta lemah-fisik dan enggan bersatu. Kasus-kasus dialami rakyat karena mengikuti dua-tiga hal negatif tersebut; sebut saja, tentang pengkhianatan oleh oknum elite yang mendasari kehancuran suatu pemerintahan atau tatanan masyarakat; yang [pengkhianatan] itu terjadi karena dorongan hawa-nafsu untuk kenikmatan sesaat dengan mengorbankan kemanfaatan pada masyarakat. Di lain sisi, tiadanya transformasi sistem dan inovasi teknologi dalam kehidupan mereka; yang oleh sebab itu mereka menjadi lemah, sehingga ketika ada orang lebih kuat secara fisik memaksa [tanpa atau dengan senjata] mereka pun kalah tanding.

Demikianlah penguasaan dan—dilanjutkan dengan—ekploitasi, sumber daya alam dan sumber daya manusia, pun berlangsung berkepanjangan di Nusantara. Hingga akhirnya, muncul kembali kesadaran untuk merdeka. Kesadaran itu menjalin satu sama lain menyimpul dalam kesadaran dan bersatu dalam kekuatan sebuah bangsa.

Proklamasi Kemerdekaan pun terjadi, 17 Agustus 1945; yang menjadi tanda bahwa suatu bangsa telah mencapai puncak perjuangan, dan terbebas dari cengkraman para penjajah, setelah melalui perjuangan sungguh-sungguh hingga titik darah penghabisan. Jejak perjuangan berat itu tercatat dalam berbagai jejak perjuangan kebangsaan.

Berita proklamasi kemerdekaan RI pun menyebar, ke seluruh negeri, pun ke manca negara. Jasa para pejuang yang tulus, dilandasi keberanian untuk mengambil keputusan dan membela kebenaran. Benarlah., setiap negara punya sejarah sendiri untuk melakukan Proklamasi Kemerdekaan. Perjuangan mengusir penjajah [dengan senjata] terjadi di berbagai daerah di Nusantara, hingga akhir Abad ke-19 atau awal Abad ke-20. Era berganti. Pada awal Abad ke-20 itu, muncul gerakan baru yang juga bercita-cita untuk mewujudkan pembebasan bangsa dari cengkeraman kezaliman dan kebodohan; gerakan melalui organisasi yang kebanyakan digagas dan didirikan oleh para pemuda. Sebut saja, Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan lain-lain.   

Jembatan Emas adalah tempat berdiri untuk melihat ke depan. Setelah merdeka, apa yang hendak dilakukan oleh bangsa merdeka ini? Benarkah penjajahan—yang seluruh bangsa Indonesia berikrar untuk “menghapuskannya di atas dunia”—sudah tidak ada lagi?

Makna penjajahan dan kemerdekaan yang berlawanan itu, terjadi bukan hanya antarbangsa, antarsuku, antarklan dan antargolongan, tetapi bahkan antarindividu. Itulah realitas yang semakin terkuak pasca kemerdekaan bangsa ini, yang teks proklamasinya dibacakan oleh Dwi-Tunggal, Sukarno-Hatta. Berbagai suasana lingkungan di dalam dan luar negeri yang terbentang dalam skema geo-politik tertentu senantiasa memengaruhi kita sebagai bangsa; dan suasana diri sebagai bangsa, suku, klan, golongan dan individu pun menentukan riak perjalanan nasib bangsa ke depan.

Sejak pembentukan berbagai badan dan panitia untuk kemerdekaan (resmi; sebagai negara) hingga upaya pergulatan menentukan bentuk negara, pengaturan perangkat kenegaraan, organisasi politik dan organisasi masyarakat yang [mestinya] mendukung kesatuan bangsa dan negara, dan mobilitas anggota masyarakat dalam “kerja dan pembangunan” serta berbagai hal lain, berdinamika terus dalam dua arus dan bentuk utama, saling menguntungkan atau saling merugikan. Dinamika inilah yang selalu kita hadapi sebagai bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, spirit Kemerdekaan, berarti menghubungkan kita saat ini dengan jasa para pejuang yang telah menafasi wujud bangsa merdeka di mana kita menjadi salah satu warganya. Dan memberi tugas untuk menjaga dan melanjutkannya hingga batas tertentu—untuk kemudian dilanjutkan terus oleh generasi setelah kita. Apakah ke depan tidak akan ada lagi penjajahan, dalam bentuk-baju dan riasan yang lain? Sejauh mana kita sebagai warga bangsa, suku, golongan dan individu mampu berjuang menahan diri untuk tidak menjajah atau menzalimi orang lain? Sekuat apakah kita terus berupaya untuk bisa memberikan manfaat bagi warga sebangsa?… wallahu ‘alam…. Merdeka!!!

SI
Author: SI

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Post Views: 280

Continue Reading

Previous: Tentang Kemerdekaan, Kini!
Next: Belajar dari Pendiri Bangsa

ARTIKEL LAIN

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
PEMULUNG ANAK-ANAK DAN AKSI INDONESIA GELAP
  • FOKUS

PEMULUNG ANAK-ANAK DAN AKSI INDONESIA GELAP

10 April 2025

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE