Dean Al-Gamereau
Malaikat berkeliling, dari satu jalan ke jalan yang lain. Mereka mencari ahlu ‘dz-dzikri (ahli zikir: orang-orang yang sedang berzikir). Ketika ditemukan, para malaikat terbang ke langit dunia, lalu mengerumuni orang-orang yang sedang berzikir itu.
Tuhan ‘Azza wa Jalla (Allah Subhaanahu wa Ta’aala) bertanya kepada para malaikat (padahal hakikatnya, Tuhan lebih tahu). “Apa yang hamba-Ku panjatkan?”. Jawab Malaikat, ”Mereka menyucikan-Mu (tasbih), mengagungkan-Mu (takbir), memujimu (tahmid), dan memuliakan-Mu (tamjid)”. Tuhan bertanya, “Apakah mereka melihat Aku?” Jawab Malikat, “Tidak, demi Allah! Mereka tidak melihat-Mu”. Tuhan bertanya, “Bagaimana kalau mereka melihat-Ku?”. Jawab Malaikat, “Sekiranya mereka melihat-Mu, pasti ibadah mereka amat khusyuk, sangat memuliakan-Mu, dan mereka jauh lebih banyak menyucikan-Mu”.
Tuhan bertanya, “Mereka minta apa?” Jawab Malaikat, “Mereka minta surga”. Tuhan bertanya, “Apakah mereka melihatnya?” Jawab Malaikat, “Tidak, demi Allah, hai Tuhanku! Mereka tidak melihatnya (surga itu)”. Tuhan bertanya, “Bagaimana kalau mereka melihatnya (surga itu)?” Jawab Malaikat, “Mereka akan lebih sungguh-sungguh, sangat berharap, dan keinginan mereka (masuk surga) jadi sangat besar”.
Tuhan bertanya, “Mereka ingin berlindung dari apa?” Jawab Malaikat, “Dari api neraka”. Tuhan bertanya, “Apakah mereka melihatnya (api neraka itu)?” Jawab Malaikat, “Tidak, demi Allah, hai Tuhanku! Mereka tidak melihatnya (api neraka itu)”. Tuhan bertanya, ”Bagaimana kalau mereka melihatnya?” Jawab Malaikat, “Mereka akan lebih bersungguh-sungguh menghindarinya, dan sangat takut padanya (pada api neraka itu)”. Selanjutnya Tuhan berfirman, “Saksikan (hai para Malaikat!), sungguh Aku telah mengampuni dosa mereka”.
Malaikat berkata,”Di antara mereka (jamaah ahli zikir itu), ada orang yang sesungguhnya tidak termasuk ahli zikir, karena bergabung untuk sesuatu urusan (bukan ingin berzikir). Firman Allah Ta’ala, “Mereka adalah kelompok yang bergabung dalam zikir. Dia tidak merugikan mereka”. (Abu Hurairah, dicatat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim (Al-Badr, 2010 M/1432 H : 8).
Pelajaran dari hadis ini :
- Allah Subhaanahu wa Ta’aala senantiasa mengawasi hamba-Nya, dan selalu memberi peluang pengampunan, dalam banyak kesempatan.
- Malaikat akan senantiasa patuh menjumpai hamba-Nya, menjadi utusan pada waktu-waktu tertentu untuk hal-hal tertentu, seperti dalam doa ahli zikir.
- Tasbih, takbir, tahmid, dan tamjid membuka peluang untuk pengampunan dosa. Janji Allah Subhaanahu wa Ta’aala,”Saksikan, Aku ampuni dosa mereka!” (untuk mereka yang senantiasa berzikir).


