A. Suryana Sudrajat
Provinsi Banten kini berusia 24 tahun. Dengan tantangan yang relatif sama seperti dikatakan Tryana Sjam’un, ketua umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten, lebih dari dua dasawarsa yang lalu. Yaitu kemiskinan dan kebodohan. Jika provinsi ini ingin terlepas dari dua belenggu tersebut, dan mencapai cita-cita menuju masyarakat yang sejahtera, makmur dan berkeadaban, salah satu kuncinya adalah Banten perlu pemimpin yang “agak laen”. Mengapa?
Berbeda dengan provinsi-provinsi lain pada umumnya di Indonesia, Banten bukanlah sebuah provinsi biasa, lebih dari sekadar sebuah daerah otonom yang meliputi tujuh kabupaten/kota, yang dulu 7merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Banten memiliki sejarah yang panjang hingga enam abad ke belakang, dan bahkan pernah mengalami masa keemasan pada zaman kesultanan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masanya, Banten pernah menjadi pusat pelayaran dan perdagangan bertaraf internasional, di samping menjadi pusat ilmu dan peradaban. Sebagai sebuah kesultanan yang disegani, Banten pun mengirim duta besar ke manca negara, bahkan ada yang berkedudukan di London, Inggris. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sampai sekarang Banten masih menjadi bahan kajian penelitian para imuwan, terutama ahli sejarah dan arkeologi.
Secara geografis, Banten juga sangat strategis karena letaknya dekat dengan Jakarta, ibu kota Republik Indonesia, jarak tempuhnya hanya satu jam dari Serang. Hal ini memungkinkan wilayah Banten terutama Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan menjadi wilayah penyangga bagi ibu kota negara. Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial. Selat Sunda, misalnya, merupakan jalur yang dapat dilalui kapal besar yang menghungkn Australia, Selandia Baru, dengan kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Selain itu, Banten juga merrupakan penghubung lalu-lintas antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Secara ekonomi Banten juga memiliki banyak industri. Di Banten juga terdapat beberaapa pelabuhan laut yang bisa dikembangkan sebagai pelabuhan internasional untuk mengantisipasi kelebihan kapasitas dari pelabuhan laut Jakarta dan bahkan Singapura. Bukankah Banten dulu dikenal sebagai kota bandar internasional? Selain pelabuhan laut, di Banten juga terdapat bandar udara internasional yang berlkasi di Cengkareng, Tangerang.
Sebagai kota bandar, Banten didiami oleh bangsa asing, selain berbaga suku bangsa dari Nusantara. Bangsa asing yang mendiami Banten berasal dari lima bangsa Eropa, yaitu Belanda, Inggris, Portugis, Prancis dan Denmark. Sementara orang Asia yang berdiam di kawasan itu berasal dari Tionghoa, Tamil, Moor. Sedangkan dari Nusantara sendiri antara lain orang Makassar yang datang berlindung ke Banten setelah negerinya diduduki Belanda. Salah satu ulama asal Makassar yang menetap di Banten dan dijadikan qadhi sekaligus mantu oleh Sultan Ageng Tirtayasa adalah Syekh Yusuf Al-Makassari, yang dibuang oleh Belanda ke Afrika Selatan. Pada masa Syekh Yusuf ini pula Banten menjadi pusat studi keislaman di Nusantara. Dengan kehadiran bangsa-bangsa asing itu, Banten pun menjadi perrtemuan aneka budaya, yang menghasilkan keunikan budaya tersendiri pada orang-orang Banten, di antaranya adalah budaya persaingan. Kemampuan daya saing ini merupakan salah satu budaya unggulan bangsa Banten kala itu..
Namun demikian, Banten bukanlah negara-kota, karena wilayah kekuasaannya cukup luas, terbentang dari Tangerang hingga Tulangbawang, dari Pelabuhan Ratu hingga Silebar. Karena itu, selain negara maritim, Banten juga adalah negara pertanian.Hal ini bisa dilihat dari proyek-proyek pertanian yang dikerjakan pada masa pemerintahan oleh Sultan Ageng Tirtyasa. Dua di antaranya adalah proyek perkebunan kelapa, dan proyek pembuatan irigasi. Pada tahun 1659, pemerintah mengeluarkan instruksi kepada seluruh kepala wilayah kerajaan supaya memerintahkan setiap orang dalam wilayah masing-masing untuk menanam 100 batang kelapa. Pohon-pohon itu harus ditanam di dekat Sungai Cisadane. Untuk mengerjakan perkebunan seluas 5.000 hektar ini dikerahkan sekitar 5. 000 orang laki-laki. Yang kedua adalah proyek pembangunan irigas baru, antara Pontang dan Tanara, untuk mengairi tanah-tanah terlantar menjadi area persawahan.
Budaya Kerja Keras
Mengacu pada kejayaan di masa lampau, letak geografis dan potensi yang dimiliki Banten, wilayah ini bukan saja bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Tanah Air, tapi bisa dikembangkan menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam yang penting. Jadi, segala prasyarat untuk maju Banten punya semua. Lahan pertaniannya subur, potensi kelautannya besar, punya kawasan pariwisata, memiliki daerah industri. Bandingkan dengan provinsi-provinsi lain.
Hanya saja, itu semua belum bisa dikembangkan secara optimal, karena kita memeiliki berbagai kendala, hambatan, yang sampai sekarang belum bisa teratasi. Pertama, masalah sumber daya manusia (SDM), yang, jika dilihat dari pendidikan formal, rata-rata tidak tamat SLTP. Jelas, SDM ini harus ditingkatkan. Kedua, terkait dengan masalah budaya. Terdapat budaya tertentu yang perlu segera diubah pada diri orang Banten. Terus terang orang Banten itu sangat dimanjakan oleh lingkungan alamnya yang subur, sehingga dengan hanya berleha-leha saja bisa makan atau tidak kelaparan. Inilah yang membuat mengapa orang banten pada umumnya tidak memiliki budaya kerja keras, tidak memiliki etos atau semangat kerja, tidak memiliki budaya inovasi, dan hidup mereka cenderung stagnan. Ketiga, di Banten tingkat perceraian ternyata cukup tinggi. Tingginya tingkat perceraian ini terutama disebabkan pernikahan dini. Jadi, masih banyak di Banten terutama kaum perempuannya yang menikah pada usia belum cukup dewasa, atau bahkan mungkin masih di bawah umur. Fenomena kawin usia dini ini harus segera diatasi karena berkaitan dengan kualitas generasi yang akan dilahirkan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dengan tingkat pendidikan yang rata-rata rendah dan absennya budaya kerja keras, maka kita akan menghadapi kesulitan dalam mengghadapi persaingan, baik di tingkat regional (Asia Tenggara), apalagi dalam skala global. Tantangan Masyarakat Ekonomi Asia ASEAN sudah nyata sekali, begitu pula dengan ekonomi yang berbasis pada pengetahuan, di mana kekayaan sumber daya alam tidak lagi bisa dijadikan modal utama dalam pertumbuhan ekonomi.
Untuk mengangkat kembali kejayaan Banten, tentu dalam konteks perkembangan zaman sekarang yang antara lain ditandai dengan pesatnya kemajuan sains dan teknologi, Banten memerlukan kepemimpinan yang kuat, strong leadership, yang memeiliki kemampuan untuk mendobrak, mengarahkan, menggerakkan, melakukan kolaborasi, dan bekerja keras. Tidak sekadar melakukan hal-hal yang rutin dan biasa-biasa saja, business as usual. Jadi, gubernur Banten itu harus “gila”. Kalau gubernurnya tidak “gila”, Banten akan terus ketinggalan, dan tidak akan pernah memeiliki sesuatu yang bisa dibanggaakan. Sebagai bekas kerajaan Islam yang memiliki peradaban unggul, apakah Banten, misalnya, bisa menjadi pusat keunggulan di bidang keilmuan dan peradaban Islam? Sehingga orang kalau ingin mempelajari Islam, mereka tidak perlu ke Timur Tengah, tetapi datang ke Banten. Islam seperti apa yang bisa dipelajari dari Banten, tentu Islam yang bebas dari radikalisme dan terorisme; Islam yang toleran, moderat, modern, tetapi tetap berpegang pada pokok-pokok akidah.
Ada beberapa program pembangunan yang mendesak untuk segera dilakukan percepatan. Pertama, bidang pendidikan. Harus ada pembenahan yang serius, untuk mewujudkan SDM Banten yang memiliki daya saing. Kedua, bidang kesehatan. Jangan lihat fasilitas kesehatan yang ada di kota, atau tingkat kesehatan masyarakat perkotaan. Cobalah datang-datang ke pelosok-pelosok pedesaan, banyak anak yang kekurangan gizi karena orangtua mereka tidak mampu membeli susu. Belum lagi fasilitas kesehatan, seperti puskesmas yang berjalan seadanya. Ketiga, bidang infrastruktur. Selain pembangunan jalan, terutama untuk menghilangkan kendala keterisolasian daerah-daerah yang ada di Banten selatan, juga perlu revitalisasi beberapa pelabuhan laut, misalnya pelabuhan di Bojonegara dan Karangantu Keempat, mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), pemerintahan yang bersih dari praktek-praktek kolusi, nepotisme dan korupsi (KKN), serta menciptakan iklim investasi yang baik sehingga banyak investor baik dari dalam maupun dari luar negeri yang ingin menanamkan modalnya di Banten.



