Lelaki itu, bibirnya selalu basah dengan zikir : tahmiid (alhamdulillah) dan istighfaar (astaghfirullah). Dia selalu ingat kepada Allah SWT dengan dua kalimat thayyibah (indah) itu, di mana pun, dan kapan pun, bahkan ketika dia lelah mengangkut air, pekerjaannya hari-hari.
Seorang ulama, Al-Hasan Al-Bashry, selalu mendengar itu, penasaran, lalu mendatangi rumahnya. seorang kuli angkut air itu. “Sejak kapan kau selalu ucapkan kedua kalimat itu?” tanya Al-Hasan Al-Bashry kepadanya. “Sudah lama,” jawabnya. “Mengapa kau selalu ucapkan kedua kalimat itu?” tanya Al-Hasan Al-Bashry lagi. “Kita selalu dalam dua situasi. Ketika kita mendapatkan nikmat, kita ucapkan tahmiid. Ketika kita lalai, kita ucapkan istighfaar,” jawabnya.
Al-Hasan Al-Bashry bertanya lagi, “Lalu, apa manfaat kedua kalimat itu untukmu?”. Jawabnya lagi, “Doaku selalu dikabulkan Allah. Tetapi, ada satu doa yang sampai sekarang belum dikabulkan,” katanya lagi. “Doa apa?” tanya Al-Hasan Al-Bashry. “Bertemu dengan seorang ulama besar, yang sangat saya kagumi, Al-Hasan Al-Bashry,” jawabnya.
Al-Hasan Al-Bashry sangat terkejut, tak menyangka sedikit pun sebelumnya bahwa ulama yang dicari dalam doanya itu adalah dirinya sendiri. “Sekarang, Allah telah mengabulkan doamu. Akulah Al-Hasan Al-Bashry,” kata Al-Hasan Al-Bashry.
Kuli angkut air ini pun tak menyangka sebelumnya, orang yang bertamu ke rumahnya, yang banyak bertanya tentang kebiasaan zikir di bibirnya, yang kini ada di hadapannya itu, ternyata ulama yang sangat dikaguminya itu.
Hari Jumat ini, kita diperintah berzikir, seperti dalam Al-Qur’an (Al-Jumu’ah : 9). Kata penafsir, Ibnu Kasir, zikir pada hari Jumat adalah salat Jumat dan khotbah Jumat. Hiasilah bibir kita dengan zikir. ***