
Oleh Tryana Sjam’un
Jika sudah terpenuhi kebutuhan duniawi seseorang, maka dia akan bertanya: sekarang saya mau apa lagi? Artinya, dia memerlukan sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan uang; itulah kebutuhan rohani, kebutuhan spiritual. Sehubungan dengan itu, orang perlu melakukan semacam refleksi mengenai keberadaannya di muka bumi, termasuk capaian-capaian yang berhasil direngkuhnya.
Saya meyakini betul keberhasilan seseorang juga dalam bisnis bukan hanya karena dia sudah berdarah-darah dalam bekerja, tapi ada unsur-unsur lain yang menunjang. Kalau kita sadar akan ini, maka — meskipun Yang Gaib itu tidak bisa dijangkau oleh panca indra — sepanjang Kita iman, kita akan bersyukur kepada-Nya yang sudah menciptakan dan memberkahi hidup kita.
Berangkat dari keyakinan itu pula, maka kita sadar bahwa apa yang kita miliki sejatinya bukan milik kita, tetapi milik Satu Dzat yang menyerahkan dan menitipkan kepada kita. Karena itu, jika kita meyakini bahwa yang kita miliki itu bukan milik kita dan hanya titipan belaka, maka ada bagian yang harus kita serahkan untuk keperluan dan kepentingan orang lain. Islam mengajarkan bahwa dalam harta seseorang terdapat hak orang lain, karena itu seorang muslim diwajibkan mengeluarkan zakat. Melalui zakat, seorang muslim merealisasikan imannya dalam bentuk kepedulian sosial, selain merefleksikan kesalehan individual, yakni sebagai hamba Tuhan yang tidak tamak.
Hemat saya, bekerja secara baik dan tekun untuk melahirkan hasil yang baik pada akhirnya tidak hanya akan dilihat secara lahiriah, untuk kepentingan duniawi, tetapi juga mengandung kepentingan yang sifatnya ukhrawi.
Saya ini saleh
Tuhan memerintahkan kita bersikap adil dan berlaku ihsan, atau melaksanakan kebajikan secara kuantitas. Ihsan bisa dilakukan dengan memperbanyak ibadah sunah pribadi maupun sosial. Sedangkan dari segi kualitas, ihsan menunjuk kepada mutu amalan seseorang. Jika pengertian ihsan kita orientasikan pada mutu, maka kita bicara tentang profesionalisme. Jadi, kalau saya boleh simpulkan, ihsan adalah melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, tidak serampangan, tidak amatiran, alias kudu profesional. Bukankah Tuhan membuat sebagus-bagusnya segala yang dia ciptakan? (Q.S. 32:7)
Saya sering bicara kepada para kolega tentang sesuatu yang mungkin bisa dianggap klise atau terkesan kuno, yakni tentang fungsi yang harus dijalankan dengan baik oleh setiap pemegang jabatan dalam perusahaan. Mengapa? Karena itu sudah merupakan amanat dari Allah Swt., dan tentu saja kita laksanakan dengan baik, maka akan berdampak positif, bukan hanya bagi perusahaan, tapi juga bagi kemaslahatan orang banyak.
Hemat saya, bekerja secara baik dan tekun untuk melahirkan hasil yang baik pada akhirnya tidak hanya akan dilihat secara lahiriah, untuk kepentingan duniawi, tetapi juga mengandung kepentingan yang sifatnya ukhrawi. Ini berarti kita bicara tentang profesionalitas, sebab apa yang kita lakukan sekarang dengan cara yang sebaik-baiknya itu bukan semata didedikasikan untuk kepentingan orang banyak, tetapi juga untuk bekal di akhirat kelak. Jadi, bekerja itu tidak semata demi kemaslahatan dunia, tetapi juga untuk keselamatan di akhirat. Karena itu pula, kita harus mampu mendorong diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu yang lebih baik lagi dari yang sudah dikerjakan.
Lalu, apa parameter bahwa kita sudah berbuat lebih baik? Harus diingat bahwa pantang bagi kita mengatakan bahwa diri kita itu baik, apalagi merasa suci. Yang menilai kita baik atau tidak baik adalah pihak lain. Tidak pantas kita mengatakan, misalnya, “saya ini saleh”. Bahkan ada yang lebih ekstrem lagi, yang berhak mengukur kesalehan seseorang adalah Tuhan.
Manusia sebelah jiwa
Orang terutama di Barat, tengah santer membicarakan krisis spiritual; banyak orang yang kehilangan, meminjam istilah Nurcholish Majid, rasa makna hidup mereka; hidup hanya dengan sebelah jiwa yang dipenuhi oleh kelimpahan materi, sementara sebelah jiwa lainnya kosong karena kehilangan spiritualitas yang mestinya diisi oleh agama; padahal menurut mereka, agama sudah lama ditinggalkan karena terbukti menghambat gerak kemajuan mereka; tenggelam dalam mesin raksasa ekonomi, mengalami alienasi, disorientasi, dan dehumanisasi.
Menurut E.F. Schumacher, ekonomi yang juga dikenal sebagai seorang humanis, itu semua krisis yang terjadi di dunia dewasa ini berpangkal pada krisis spiritual. Pengarang SmallisBeautiful itu dalam banyak hal memang dipengaruhi nilai-nilai spiritualitas Budha, tapi dia benar dengan analisisnya itu. Dan seperti sudah saya singgung, berpegang pada etika saja tanpa dilandasi nilai-nilai spiritualitas adalah omong kosong.
Berbagai krisis yang terjadi di negara kita sekarang, semestinya sudah menjadi peringatan bagi kita untuk mawas diri. Tampaknya pada bangsa kita, unsur-unsur keserakahan, ketamakan, tricky sudah mulai mendesak nilai-nilai seperti kejujuran, ketulusan, kesetiakawanan, dan seterusnya. Ciri-ciri kemungkaran pun sudah mulai memperlihatkan taring dan menancapkan kuku-kukunya. Jika demikian, azab pada bangsa ini tampaknya belum akan berakhir, bahkan bisa bertambah jika kita tidak segera mengoreksi keburukan-keburukan kita itu. Jadi, memang saat ini sedang terjadi krisis spiritualitas pada sebagian bangsa kita, pada pemimpin-pemimpin kita, termasuk pemimpin agamanya
Dalam suasana yang sumpek semacam itu, kita menyaksikan kawan-kawan kita dari kalangan artis profesional dan kaum bisnis yang mencoba menempuh jalan spiritual yang umumnya dilakukan secara instan; Saya kira mereka bukan hanya karena muak, atau capek melihat keadaan yang amburadul, tetapi mereka ingin menempuh jalan yang lebih baik untuk menjadi manusia yang seutuhnya, bukan manusia yang hidup dengan sebelah jiwa.
Ya, manusia yang menjalani hidupnya bukan hanya berpijak pada nilai-nilai etika dan dan moralitas, tapi juga ditopang oleh nilai-nilai spiritualitas. *


