Gagasan tentang “kemanusiaan” atau kerap disebut juga “humanisme” memiliki lingkup kajian yang sangat atau paling luas dalam ilmu Humaniora. Kali ini kita akan mendiskusikannya pada ranah yang lebih spesifik, demi memenuhi ruang kecil dalam media newsletter dengan sekuntum ide; melalui telaah hermeneutika terhadap satu-dua kalimat dari Kitab Suci.
Pada dasarnya, ide “kemanusiaan” yang dimaksudkan di sini adalah konsep yang meletakkan manusia sebagai makhluk mulia. Rumusannya merupakan turunan dari cara pandang yang memastikan adanya pemuliaan pada Bani Adam, sebagaimana Tuhan Yang Mahakuasa telah memuliakan anak-cucu Adam. Dan sungguh, telah Kami muliakan anak-anak Adam…(Q.S. Al-Isra’ [17]:70). Sehingga nilai utama dari konsep kemanusiaan dimaksud adalah memuliakan; memanusiakan manusia. Maka ketika terjadi penjajahan dan penindasan atas manusia, dengan berbagai variannya—baik pribadi, apalagi secara sosial—itu jelas menodai dan menginjak watak asli kemanusiaan.
Dalam beragam kondisi sosial memang menunjukkan adanya kelebihan kekuatan satu orang dari yang lain atau satu kelompok dari kelompok yang lain. Namun, apakah yang lebih kuat itu mesti menindas yang dianggap lemah?
Pemahaman ini ditangkap oleh para faunding fathers bangsa sebagai konsep yang generik dan berlaku umum. Itulah sebabnya rumusan Konstitusi kita menjadikan gagasan kemanusiaan itu sebagai fondasi berbangsa dan bernegara—bahkan ditempatkan di paragraf pertama Pembukaan UUD 1945—, “…maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Perikemanusiaan memang tidak boleh lepas dari keadilan. Sebab, manifestasi dari nilai kemanusiaan—yang utama—adalah keadilan. Perlakuan adil terhadap manusia—sebagai individu, masyarakat, warga negara—mesti meliputi seluruh sendi kehidupan; politik, ekonomi, akses pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, lapangan kerja dan usaha dan seterusnya.
Selanjutnya, karunia kemuliaan yang sama itu diletakkan pada manusia, yang memiliki asal penciptaan sama. Yakni dari suatu bahan yang—secara fitrah—memang tidak memungkinkannya untuk merasa memiliki hak lebih tinggi dari yang lain. Sebab, asal penciptaan manusia itu sama: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. al-Hijr [15]:26) Dan, dalam proses saintifik selanjutnya, dari air mani, “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani,” (QS. al-Mukmin [40]:7; juga dalam QS Yasin [36]:77)
Karena itu, ide kemanusiaan sejati tegas menolak ide dan konsep “uber alles”dan yang serupa, yang menganggap diri seseorang, satu kelompok, suku atau bangsa tertentu lebih unggul dari yang lain secara bawaan. Tidak ada pula kebangsawanan raja-raja, bahkan suku Quraisy, bangsa Yahudi dan lain-lain, yang boleh arogan. Memberi penghormatan yang sepantasnya, tentu saja boleh, dan hal itu jelas jauh dari perkara sifat dan sikap sombong.
Sebaliknya, yang muncul dari humanisme ini adalah konsep egalitarian (kesetaraan sosial); yang menegaskan bahwa semua orang harus diperlakukan secara sama dan memiliki hak politik, ekonomi, sosial dan sipil yang sama pula. Dan, secara sosial, mendukung penghapusan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Dengan demikian, suatu gerak kemanusiaan bukan sekadar tindakan bagi-bagi sembako, sedikit uang, atau derma lain berdasar rasa kasihan. Bukan hanya itu. Bahkan, meski dilakukan “tanpa pamrih”, apalagi yang dengan pamrih.
Lalu, bagaimana jika melihat adanya “kelebihan” pada seseorang atau komunitas tertentu? Kitab suci memberi setidaknya dua kategori; [1] yang beriman dan berilmu (QS. Mujadalah [58]:11) dan [2] yang lebih bertakwa (“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. (QS. al-Hujurat [49]:13)
Dua kemuliaan pada manusia yang dijamin tersebut jelas merupakan raihan dari kerja keras dan upaya sungguh-sungguh, bukan bawaan. Dan keduanya, sekaligus menjerat pemiliknya untuk tidak mungkin arogan dan sewenang-wenang. Karena, setiap yang sombong dan arogan apalagi menipu dan menindas pastilah bukan yang beriman dan berilmu, apalagi bertakwa. [rm]


