Skip to content
SALAKANAGARA INSTITUTE

SALAKANAGARA INSTITUTE

Yayasan Kajian Kemanusiaan dan Demokrasi

Primary Menu
  • BERANDA
  • TENTANG KAMI
    • PROFIL SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGURUS SALAKANAGARA INSTITUTE
    • PENGELOLA WEBSITE
  • OASE
  • OPINI
  • FOKUS BANTEN
  • INFO SI
  • NEWSLETTER SI
    • EDISI 1
    • EDISI 2
  • FOKUS
  • INSIGHT
  • Home
  • INSIGHT
  • Kemanusiaan; sebuah perspektif
  • INSIGHT

Kemanusiaan; sebuah perspektif

SI 30 Januari 2024

Gagasan tentang “kemanusiaan” atau kerap disebut juga “humanisme” memiliki lingkup kajian yang sangat atau paling luas dalam ilmu Humaniora. Kali ini kita akan mendiskusikannya pada ranah yang lebih spesifik, demi memenuhi ruang kecil dalam media newsletter dengan sekuntum ide; melalui telaah hermeneutika terhadap satu-dua kalimat dari Kitab Suci.

Pada dasarnya, ide “kemanusiaan” yang dimaksudkan di sini adalah konsep yang meletakkan manusia sebagai makhluk mulia. Rumusannya merupakan turunan dari cara pandang yang memastikan adanya pemuliaan pada Bani Adam, sebagaimana Tuhan Yang Mahakuasa telah memuliakan anak-cucu Adam. Dan sungguh, telah Kami muliakan anak-anak Adam…(Q.S. Al-Isra’ [17]:70). Sehingga nilai utama dari konsep kemanusiaan dimaksud adalah memuliakan; memanusiakan manusia. Maka ketika terjadi penjajahan dan penindasan atas manusia, dengan berbagai variannya—baik pribadi, apalagi secara sosial—itu jelas menodai dan menginjak watak asli kemanusiaan.

Dalam beragam kondisi sosial memang menunjukkan adanya kelebihan kekuatan satu orang dari yang lain atau satu kelompok dari kelompok yang lain. Namun, apakah yang lebih kuat itu mesti menindas yang dianggap lemah? 

Pemahaman ini ditangkap oleh para faunding fathers bangsa sebagai konsep yang generik dan berlaku umum. Itulah sebabnya rumusan Konstitusi kita menjadikan gagasan kemanusiaan itu sebagai fondasi berbangsa dan bernegara—bahkan ditempatkan di paragraf pertama Pembukaan UUD 1945—, “…maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Perikemanusiaan memang tidak boleh lepas dari keadilan. Sebab, manifestasi dari nilai kemanusiaan—yang utama—adalah keadilan. Perlakuan adil terhadap manusia—sebagai individu, masyarakat, warga negara—mesti meliputi seluruh sendi kehidupan; politik, ekonomi, akses pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, lapangan kerja dan usaha dan seterusnya. 

Selanjutnya, karunia kemuliaan yang sama itu diletakkan pada manusia, yang memiliki asal penciptaan sama. Yakni dari suatu bahan yang—secara fitrah—memang tidak memungkinkannya untuk merasa memiliki hak lebih tinggi dari yang lain. Sebab, asal penciptaan manusia itu sama: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. al-Hijr [15]:26) Dan, dalam proses saintifik selanjutnya, dari air mani, “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani,” (QS. al-Mukmin [40]:7; juga dalam QS Yasin [36]:77)

Karena itu, ide kemanusiaan sejati tegas menolak ide dan konsep “uber alles”dan yang serupa, yang menganggap diri seseorang, satu kelompok, suku atau bangsa tertentu lebih unggul dari yang lain secara bawaan. Tidak ada pula kebangsawanan raja-raja, bahkan suku Quraisy, bangsa Yahudi dan lain-lain, yang boleh arogan. Memberi penghormatan yang sepantasnya, tentu saja boleh, dan hal itu jelas jauh dari perkara sifat dan sikap sombong.

Sebaliknya, yang muncul dari humanisme ini adalah konsep egalitarian (kesetaraan sosial); yang menegaskan bahwa semua orang harus diperlakukan secara sama dan memiliki hak politik, ekonomi, sosial dan sipil yang sama pula. Dan, secara sosial, mendukung penghapusan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Dengan demikian, suatu gerak kemanusiaan bukan sekadar tindakan bagi-bagi sembako, sedikit uang, atau derma lain berdasar rasa kasihan. Bukan hanya itu. Bahkan, meski dilakukan “tanpa pamrih”, apalagi yang dengan pamrih.

Lalu, bagaimana jika melihat adanya “kelebihan” pada seseorang atau komunitas tertentu? Kitab suci memberi setidaknya dua kategori; [1] yang beriman dan berilmu (QS. Mujadalah [58]:11) dan [2] yang lebih bertakwa (“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. (QS. al-Hujurat [49]:13)

Dua kemuliaan pada manusia yang dijamin tersebut jelas merupakan raihan dari kerja keras dan upaya sungguh-sungguh, bukan bawaan. Dan keduanya, sekaligus menjerat pemiliknya untuk tidak mungkin arogan dan sewenang-wenang. Karena, setiap yang sombong dan arogan apalagi menipu dan menindas pastilah bukan yang beriman dan berilmu, apalagi bertakwa. [rm]

SI
Author: SI

Post Views: 246

Continue Reading

Next: Pemimpin yang Mendengar

ARTIKEL LAIN

Ternyata 68,25% Penduduk Indonesia Miskin
  • INSIGHT

Ternyata 68,25% Penduduk Indonesia Miskin

25 Juni 2025
Negara Hukum  yang Makin Rapuh
  • INSIGHT

Negara Hukum  yang Makin Rapuh

9 Juni 2025
Berpijak pada Moralitas, Bertopang pada Spiritualitas
  • INSIGHT

Berpijak pada Moralitas, Bertopang pada Spiritualitas

10 April 2025

JANGAN LEWATKAN

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat
  • INFO SI
  • OBITUARI

Mengenang Sosok Bapak H Tryana Sjam’un Pemimpin Bijak Yang Merakyat

16 Januari 2026
Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat
  • OPINI

Masihkah Kemerdekaan Milik Rakyat

6 September 2025
ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL
  • FOKUS

ORGANISASI MASYARAKAT DAN PERAN  KONTROL SOSIAL

29 Juni 2025
Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana
  • FOKUS

Penegak Hukum Lemah, Premanisme di mana-mana

29 Juni 2025
Copyright © SALAKANAGARA INSTITUTE